Oleh M. Hilmi | Ramadan Mubarak – Kam, 16 Agu 2012
Pengantar:
Bulan puasa telah memasuki hari-hari terakhir. Ada baiknya kita mengisi
sisa waktu bulan penuh berkah ini dengan hal-hal yang positif dan
produktif. Berikut adalah seri pertama dari tulisan dengan tema
“Ngabuburit Produktif”. Akan ada seri beberapa tulisan tentang
kisah-kisah ngabuburit yang produktif, sebuah hal yang mungkin bisa
membuka pilihan bagi kita untuk tak selalu terikat pada kegiatan
ngabuburit yang kurang produktif.
Saat itu sekitar pukul
16.00, di sebuah sudut Jalan Pattimura, Malang, terlihat riuh akan
beberapa orang remaja yang tampak sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Muka
mereka tampak serius.“Aku mau bikin gambar suasana sore hari, Mas” ujar salah seorang di
antara remaja SMA itu sambil mencukil-cukil papan kayu di depannya. Hari
itu, di Legipait, kedai kopi di pojokan Jalan Pattimura, Malang sedang
diadakan workshop cukil kayu. Mentornya Djuwadi Ahwal, seorang perupa
asal Blora yang kini berprofesi sebagai pengajar seni di Papua Nugini.
Workshop ini juga merupakan rangkaian acara dari pameran cukil kayu
karya Djuwadi Ahwal yang akan diadakan di tempat yang sama beberapa hari
kemudian.
Pada dasarnya, metode cukil kayu menggunakan papan
yang salah satu sisinya telah dicukil sedemikian rupa untuk mejadi
master cetakan, untuk kemudian papan tersebut diberi lapisan tinta cetak
sebelum nantinya dicetak langsung ke kertas atau medium yang lain.
Hampir seperti prinsip kerja stempel, hanya saja master cetakan bisa
kita kreasikan dengan citra dari cukilan-cukilan di papan.
Selain
memiliki karakter gambar yang unik karena metode cukil, metode ini juga
menarik karena ini adalah salah satu metode cetak gambar yang paling
murah secara produksi, karena dengan satu master cetakan, dan satu paket
tinta cetak, kita bisa menghasilkan ribuan lembar hasil cetak dengan
ongkos produksi serta peralatan yang minim dan sederhana.“Satu paket
tinta cetak seharga Rp 150 ribuan ini, bisa buat cetak ribuan lembar”
jelas Djuwadi Ahwal.
Maka jadilah workshop ini menjadi salah satu
agenda menarik di kala ngabuburit di Malang. Nova Ruth, pemilik kafe
Legipait, mengatakan, salah satu tujuan diadakannya workshop cukil kayu
ini agar tersedianya pilihan kegiatan ngabuburit yang produktif.
Pendapat
yang kurang lebih terwakilkan di binar-binar bangga wajah remaja-remaja
peserta workshop cukil kayu ini ketika mereka melihat bagaimana hasil
karya cukil mereka dicetak di kertas untuk kemudian dipajang di
dinding-dinding kafe Legipait. Tampaknya mereka senang diajak
“menemukan” medium seni yang unik namun juga murah produksi.
“Habis
gitu, mereka banyak yang tanya ke aku soal alat cukilnya, mereka pada
pengen beli semua, ada juga yang semangat mau cetak di kaos,” kata
Djuwadi Ahwal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar