Home

Home (14)

Song,Poem and recipe

Video

Video (2)

Top Website

Kamis, 16 Agustus 2012

Seri Ngabuburit Produktif #1: Produksi Seni Murah via Cukilan Papan

Pengantar: Bulan puasa telah memasuki hari-hari terakhir. Ada baiknya kita mengisi sisa waktu bulan penuh berkah ini dengan hal-hal yang positif dan produktif. Berikut adalah seri pertama dari tulisan dengan tema “Ngabuburit Produktif”. Akan ada seri beberapa tulisan tentang kisah-kisah ngabuburit yang produktif, sebuah hal yang mungkin bisa membuka pilihan bagi kita untuk tak selalu terikat pada kegiatan ngabuburit yang kurang produktif.

Saat itu sekitar pukul 16.00, di sebuah sudut Jalan Pattimura, Malang, terlihat riuh akan beberapa orang remaja yang tampak sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Muka mereka tampak serius.“Aku mau bikin gambar suasana sore hari, Mas” ujar salah seorang di antara remaja SMA itu sambil mencukil-cukil papan kayu di depannya. Hari itu, di Legipait, kedai kopi di pojokan Jalan Pattimura, Malang sedang diadakan workshop cukil kayu. Mentornya Djuwadi Ahwal, seorang perupa asal Blora yang kini berprofesi sebagai pengajar seni di Papua Nugini. Workshop ini juga merupakan rangkaian acara dari pameran cukil kayu karya Djuwadi Ahwal yang akan diadakan di tempat yang sama beberapa hari kemudian.

Pada dasarnya, metode cukil kayu menggunakan papan yang salah satu sisinya telah dicukil sedemikian rupa untuk mejadi master cetakan, untuk kemudian papan tersebut diberi lapisan tinta cetak sebelum nantinya dicetak langsung ke kertas atau medium yang lain. Hampir seperti prinsip kerja stempel, hanya saja master cetakan bisa kita kreasikan dengan citra dari cukilan-cukilan di papan.

Selain memiliki karakter gambar yang unik karena metode cukil, metode ini juga menarik karena ini adalah salah satu metode cetak gambar yang paling murah secara produksi, karena dengan satu master cetakan, dan satu paket tinta cetak, kita bisa menghasilkan ribuan lembar hasil cetak dengan ongkos produksi serta peralatan yang minim dan sederhana.“Satu paket tinta cetak seharga Rp 150 ribuan ini, bisa buat cetak ribuan lembar” jelas Djuwadi Ahwal.

Maka jadilah workshop ini menjadi salah satu agenda menarik di kala ngabuburit di Malang. Nova Ruth, pemilik kafe Legipait, mengatakan, salah satu tujuan diadakannya workshop cukil kayu ini agar tersedianya pilihan kegiatan ngabuburit yang produktif.

Pendapat yang kurang lebih terwakilkan di binar-binar bangga wajah remaja-remaja peserta workshop cukil kayu ini ketika mereka melihat bagaimana hasil karya cukil mereka dicetak di kertas untuk kemudian dipajang di dinding-dinding kafe Legipait. Tampaknya mereka senang diajak “menemukan” medium seni yang unik namun juga murah produksi.

“Habis gitu, mereka banyak yang tanya ke aku soal alat cukilnya, mereka pada pengen beli semua, ada juga yang semangat mau cetak di kaos,” kata Djuwadi Ahwal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar